SIGNAL24.ID - Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh unggahan yang menyoroti aliran dana dari Open Society Foundations (OSF) ke Universitas Indonesia (UI).
Dalam unggahan yang beredar, terlihat tangkapan layar dari situs resmi OSF yang mencantumkan salah satu unit di UI, yakni “UKK PPM Asia Research Centre”, sebagai penerima hibah senilai US$150.001 pada tahun 2023.
Isu ini langsung memicu diskusi luas di ruang publik, terutama setelah diangkat oleh akun Instagram @bennix.official milik Bennix.
Lewat unggahannya, Bennix mempertanyakan alasan di balik penerimaan dana tersebut, bahkan mengaitkannya dengan sosok George Soros, pendiri OSF.
Ia secara terbuka menyinggung peran Soros dalam dinamika ekonomi global, termasuk mengaitkannya dengan krisis ekonomi 1998 di Indonesia—klaim yang selama ini menjadi perdebatan panjang di berbagai kalangan.
Unggahan tersebut juga berisi pertanyaan bernada kritis mengenai tujuan pemberian dana kepada UI, yang kemudian memancing reaksi beragam dari warganet.
Tak butuh waktu lama, postingan itu langsung viral dengan ribuan tanda suka dan ratusan komentar, menandakan tingginya perhatian publik terhadap isu ini.
Apa Itu Open Society Foundations?
Sebagai informasi, Open Society Foundations merupakan jaringan lembaga filantropi internasional yang didirikan oleh George Soros.
Organisasi ini dikenal aktif memberikan hibah kepada berbagai institusi di dunia, termasuk universitas, lembaga riset, dan organisasi masyarakat sipil. Fokus utamanya mencakup penguatan demokrasi, hak asasi manusia, transparansi, serta tata kelola pemerintahan.
Namun, di balik perannya tersebut, OSF juga kerap menjadi kontroversi karena dianggap membawa agenda tertentu, terutama dalam konteks geopolitik dan pengaruh asing.
Kontroversi Global: OSF Pernah Ditolak Sejumlah Negara
Keberadaan OSF tidak selalu diterima di berbagai negara. Sejumlah pemerintah bahkan mengambil langkah tegas terhadap aktivitas lembaga ini.
-
Di Rusia, OSF ditetapkan sebagai organisasi yang tidak diinginkan sejak 2015.
-
Pemerintah Hungaria di bawah kepemimpinan Viktor Orbán memberlakukan kebijakan ketat melalui regulasi “Stop Soros”.
Artikel Terkait
Selat Hormuz Ditutup! Pertamina Siap Olah Minyak Rusia, Pastikan Kilang Siap Produksi
Prabowo Gaspol Diplomasi Eropa! Dari Putin ke Macron, RI Incar Kerja Sama Strategis Besar
Dicopot dari Dirut MTF, Kekayaan Pinohadi Tetap Gila-Gilaan: Tembus Rp90 Miliar!
Dari Paris, Prabowo Kirim Doa Spesial untuk Titiek Soeharto di Hari Ulang Tahun ke-67
Tempo vs NasDem Memanas! Soal Isu Merger dengan Gerindra, Redaksi Angkat Bicara