SIGNAL24.ID - Di tengah dinamika pasar energi global yang belum stabil, Indonesia mulai mengambil langkah strategis dengan membuka peluang kerja sama energi bersama Rusia. Kabar terbaru, PT Pertamina (Persero) memastikan kesiapan penuh dalam mengolah minyak mentah asal Negeri Beruang Merah tersebut.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa seluruh kilang milik Pertamina secara teknis mampu mengolah crude oil dari Rusia menjadi berbagai produk turunan yang dibutuhkan dalam negeri.
“Untuk crude dari Rusia, kilang yang dimiliki Pertamina mampu dan siap mengolahnya menjadi produk energi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa.
Pernyataan ini muncul seiring langkah pemerintah Indonesia yang tengah menjajaki pembelian minyak mentah dan LPG dari Rusia. Upaya tersebut dilakukan guna memperkuat pasokan energi nasional di tengah tekanan global yang belum mereda.
Lebih lanjut, Roberth menegaskan bahwa Pertamina akan mengikuti sepenuhnya arah kebijakan pemerintah dalam urusan perdagangan energi, termasuk jika keputusan impor dari Rusia benar-benar direalisasikan.
“Pertamina tentu akan mendukung kebijakan pemerintah, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi energi ke masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, diketahui telah melakukan pertemuan langsung dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, guna membahas peluang kerja sama strategis di sektor energi.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas sejumlah agenda penting, mulai dari penguatan perdagangan minyak mentah, pengembangan kilang, hingga pemanfaatan teknologi energi modern.
“Alhamdulillah, hasilnya cukup positif. Kita berpeluang menambah cadangan crude nasional, sekaligus mendapatkan pasokan LPG,” kata Bahlil dalam keterangannya.
Langkah ini dinilai menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional. Pasalnya, kondisi pasar energi global saat ini masih menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia.
Dengan membuka akses ke salah satu produsen energi terbesar dunia, Indonesia berharap dapat memperkuat stabilitas pasokan sekaligus mengantisipasi potensi krisis energi di masa depan.
Ke depan, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada perdagangan energi, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan infrastruktur kilang dalam negeri.(*)
Artikel Terkait
Danau Kerinci Menyusut, Proyek PLTA Bernilai Triliunan Disorot: Energi Hijau atau Ancaman Baru?
Denda Rp500 Miliar dan Isu Tambang Ilegal, Pertemuan Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos dengan Satgas PKH Disorot Tajam
Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Video Ceramah Mati Syahid Picu Polemik Nasional
Mendagri Tito Karnavian Soroti Pilkada Langsung: Biaya Mahal Picu Kepala Daerah Terjerat Korupsi
Panas! Diserang Cover 'Nyeleneh' dan Isu Merger dengan Partai Gerindra Bikin NasDem Geruduk Majalah Tempo