Baca Juga: Realme GT 6T vs GT Neo 6: Duel Panas Mid-High, Pilih Performa Ngebut atau Tahan Lama?
Gangguan tersebut disebut sebagai salah satu krisis pasokan energi terbesar sejak era 1970-an, dengan efek domino terhadap inflasi global, biaya energi, hingga stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor minyak.
Kini, dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, premi risiko yang sempat membengkak di pasar energi mulai mengempis. Harga pun ikut terkoreksi.
Meski begitu, situasi belum sepenuhnya aman. Pembukaan jalur ini terjadi dalam konteks gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang turut meredakan ketegangan regional. Namun, faktor geopolitik masih membayangi.
Amerika Serikat diketahui masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara aspek keamanan di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar global.
Artinya, meski harga minyak saat ini turun tajam, potensi gejolak masih bisa terjadi sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi politik di Timur Tengah. (*)
Artikel Terkait
Timur Tengah Memanas! Ancaman Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Dunia Terancam Krisis Energi
Rusia Kirim 730 Ribu Barel Minyak ke Kuba, Krisis Energi Akibat Blokade AS Makin Memanas
Selat Hormuz Dibatasi Iran, Tarif Kapal Tembus Rp34 Miliar dan Ancam Harga Minyak Dunia
Selat Hormuz Ditutup! Pertamina Siap Olah Minyak Rusia, Pastikan Kilang Siap Produksi
Dunia Mulai Waspada! Iran Ancam Blokir 3 Jalur Laut Vital, Harga Minyak Terancam Melonjak Naik